Google PlayApp Store
Sampul cerita Malin Deman dan Putri Bungsu

Malin Deman dan Putri Bungsu

9 halaman2 menit 47 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di sebuah kampung di Sumatra, hiduplah pemuda baik hati bernama Malin Deman. Ia rajin membantu ibunya dan pandai bermain suling. Suara sulingnya lembut sekali, sampai burung-burung ikut bernyanyi bersamanya.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Di dekat kampung ada telaga jernih di tengah hutan. Konon, pada malam bulan purnama, tujuh bidadari turun dari kayangan untuk mandi di telaga itu. Selendang mereka digantung di dahan-dahan pohon di tepian.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Suatu malam, Malin Deman melihat cahaya indah di telaga. Ia mengintip dari balik pohon. Benar saja, tujuh bidadari sedang bermain air sambil tertawa riang. Selendang warna-warni bergantungan di dahan.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Malin Deman menyembunyikan selendang milik bidadari bungsu. Saat fajar, enam bidadari terbang ke kayangan. Putri Bungsu tertinggal, mencari selendangnya sambil menangis. Malin Deman menghampirinya. "Jangan menangis. Tinggallah di kampung kami."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Bertahun-tahun kemudian, mereka telah menikah dan punya seorang anak. Suatu hari, saat membersihkan lumbung padi, Putri Bungsu menemukan selendangnya tersembunyi di bawah tumpukan padi. "Jadi selama ini selendangku ada di sini," bisiknya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Putri Bungsu sedih, tetapi ia juga rindu keluarganya di kayangan. Ia memeluk anaknya dan berkata, "Ibu harus pulang ke langit. Lihatlah pelangi; itu jalan ibu, dan tanda ibu selalu ingat pada kalian."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Malin Deman menyesal telah menyembunyikan selendang itu. "Maafkan aku," katanya dengan mata basah. Putri Bungsu tersenyum lembut, "Jujurlah selalu, agar orang yang kita sayangi tetap percaya pada kita."

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Putri Bungsu terbang perlahan ke langit senja. Sejak itu, setiap kali pelangi muncul setelah hujan, Malin Deman dan anaknya melambai ke langit. Mereka tahu, Putri Bungsu sedang menengok mereka dari jauh.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Malam pun datang. Bintang-bintang bersinar seperti lampu-lampu kecil dari kayangan. Orang-orang yang saling menyayangi selalu terhubung, meski jauh. Pejamkan matamu perlahan. Tidurlah yang nyenyak, sampai besok pagi.

Tentang cerita ini

"Malin Deman" adalah versi Minangkabau dari salah satu keluarga cerita paling tersebar di Nusantara: tujuh bidadari turun mandi di telaga, dan seorang pemuda menyembunyikan selendang si bungsu. Di Jawa keluarga cerita ini dikenal lewat kisah Jaka Tarub — seru membandingkan keduanya.

Jangkar dunia nyatanya sederhana dan selalu tersedia: pelangi. Dalam versi kami pelangi adalah jalan Putri Bungsu dan tanda ia selalu ingat keluarganya. Sesudah hujan, ajak anak mencari pelangi dan melambai — seperti Malin Deman dan anaknya.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam banyak versi lama perpisahan itu selamanya; versi kami menyisakan benang hangat antara langit dan bumi. Bahan ngobrol: semuanya bermula dari selendang yang disembunyikan — kejujuran membuat orang yang kita sayangi tetap percaya pada kita.

Untuk orang tua

Pesan moral

Kejujuran menjaga kepercayaan orang-orang yang kita sayangi.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Siapa yang tertinggal di telaga dan mengapa?
  2. Apa yang ditemukan Putri Bungsu di lumbung padi?
  3. Mengapa kejujuran itu penting dalam keluarga?
  4. Apa tanda bahwa Putri Bungsu selalu ingat keluarganya?

Untuk kelas

sulingtelagabidadariselendanglumbungkayangan

Cerita lain: Sumatra

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.