

Halaman 1
Di Sumatra Utara, di tengah sungai besar dekat Labuhanbatu, ada pulau kecil yang ditumbuhi bambu. Orang menyebutnya Pulau Si Kantan. Angin yang lewat di sana berbunyi seperti suling. Inilah kisahnya.

Halaman 2
Dahulu, hiduplah pemuda bernama Si Kantan bersama ibunya di gubuk tepi sungai. Mereka hidup sederhana, tetapi ibunya pandai membuat suling bambu. "Bawalah suling ini merantau, Nak. Di dalamnya ada kasih sayang Ibu."
Halaman 3
Si Kantan berlayar ke negeri Malaka. Di sana ia meniup suling pemberian ibunya. Suaranya merdu sekali, lembut seperti angin sungai, sampai-sampai Sultan Malaka terpesona dan mengundangnya ke istana.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Si Kantan menjadi pemusik istana yang terkenal, lalu menikah dengan putri sultan. Hidupnya bergelimang harta. Namun makin lama, ia makin jarang meniup suling bambunya, dan makin jarang mengingat ibunya.
Halaman 5
Kabar itu sampai ke gubuk tua di tepi sungai. Dengan sampan kecil, ibu Si Kantan berlayar jauh ke Malaka. "Aku ingin melihat anakku sekali saja," katanya sambil mendayung pelan-pelan.
Halaman 6
Di dermaga Malaka, ibu tua itu memanggil, "Kantan, Anakku!" Si Kantan memandang sampan tua dan baju lusuh itu di depan istrinya. Ia membuang muka. "Perempuan itu salah mengenali orang. Antarkan dia pergi," katanya dingin.
Halaman 7
Sang ibu pulang dengan hati yang hancur. Malam itu, ketika Si Kantan meniup sulingnya di istana, suling itu tidak berbunyi sama sekali. Sunyi. Kasih sayang di dalamnya seakan pergi bersama ibunya.
Halaman 8
Si Kantan tersadar dan menyesal. Ia berlayar mengejar sampan ibunya. Namun di tengah sungai, badai besar datang. Kapalnya karam perlahan-lahan, lalu berubah menjadi pulau kecil di tengah sungai itu.
Halaman 9
Si Kantan selamat di pulau itu, tetapi ia tidak pernah bertemu ibunya lagi. Maka ia mengajari anak-anak nelayan yang singgah untuk selalu sayang kepada ibu mereka. "Sayangi ibumu selagi dekat," pesannya selalu. Pulau itu kini dinamai Pulau Si Kantan.
Halaman 10
Malam turun di sungai yang tenang. Daun-daun bambu di pulau berbisik lembut seperti suling ibu, menyanyikan lagu tidur untukmu. Biarkan malam yang tenang menjagamu. Tidurlah.
"Si Kantan" adalah anggota kelima keluarga cerita Sumatera tentang anak yang menyangkal ibunya — sekeluarga dengan Malin Kundang, Si Lancang, Tuaka, dan Sampuraga. Versi dari Labuhanbatu, Sumatera Utara ini punya suaranya sendiri: suling bambu buatan ibu, yang berhenti berbunyi ketika Si Kantan menyangkal ibunya.
Pulau kecil berbambu di tengah sungai di Labuhanbatu itu dipercaya sebagai bekas kapal Si Kantan, dan angin yang lewat di sela bambunya berbunyi seperti suling. Suling bambu sendiri akrab bagi anak Indonesia — coba dengarkan bunyinya bersama.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Berbeda dari saudara ceritanya, versi kami menyisakan sedih yang jujur: Si Kantan selamat dan menyesal, tetapi tidak pernah bertemu ibunya lagi. Tidak perlu ditutupi — justru ini bahan ngobrolnya: ada kesalahan yang tidak sempat diperbaiki, maka sayangi ibu selagi dekat. Tutup dengan pelukan.
Sayangi dan hargai orang tua selagi mereka masih dekat dengan kita.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.