

Halaman 1
Dahulu, laut di selatan Sulawesi ramai oleh perahu-perahu layar. Ada perahu pembawa garam, pembawa kelapa, pembawa cerita. Di salah satu perahu, ikut seorang anak bernama La Sinrang bersama kakeknya, sang nakhoda.

Halaman 2
Suatu hari langit berubah gelap. Angin menderu, ombak meninggi. La Sinrang memegang tiang erat-erat. “Kek, kita bagaimana?” Kakeknya tenang memutar kemudi. “Kita cari tempat berteduh. Laut selalu menyediakan.”
Halaman 3
Di tengah hujan, mereka melihat bayangan pulau yang tak ada di peta. Perahu masuk ke teluknya yang tenang. Ajaib — di dalam teluk, air hampir tak bergelombang. Badai lewat, mereka selamat.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Paginya mereka menjelajah. Ada mata air jernih, pohon-pohon kelapa, dan pantai pasir putih yang panjang. Beberapa keluarga nelayan tinggal di sana. Mereka menyambut dengan ikan bakar. “Singgahlah, jangan buru-buru!”
Halaman 5
Kakek naik ke bukit dan memandang jauh. “Lihat, Sinrang,” katanya takjub. “Dari sini semua perahu terlihat jelas. Dan pulau ini memanjang... persis seperti sehelai layar yang terkembang!”
Halaman 6
Malam itu mereka melihat kelip lampu perahu yang kemalaman di tengah laut. Kakek menyalakan api unggun besar di atas bukit. Perahu itu berbelok, mengikuti cahaya, dan berlabuh dengan selamat di teluk.
Halaman 7
Sejak itu makin banyak pelaut singgah: mengisi air, menukar barang, berbagi kabar. Kakek membuat aturan sederhana. “Setiap layar boleh singgah di sini. Dan setiap tamu membagi satu cerita.”
Halaman 8
Para pelaut mulai menyebutnya pulau si layar, karena bentuknya dan karena semua layar berlabuh di sana. Lama-kelamaan sebutan itu melekat menjadi satu nama: Selayar. Nakhoda-nakhoda menggambarnya di peta mereka.
Halaman 9
La Sinrang tumbuh menjadi nakhoda seperti kakeknya. Ia hafal jalan pulang ke pulau itu dari segala arah. Dan tiap kali ada perahu kemalaman, api di bukit Selayar selalu menyala menuntunnya.
Halaman 10
Malam ini di Pulau Selayar, layar-layar sudah digulung dan perahu-perahu tertambat tenang. Gulunglah juga lelahmu hari ini. Berlabuhlah pelan-pelan di pelukan mimpi. Selamat tidur, pelaut kecil.
Pulau Selayar sungguh ada di selatan Sulawesi, memanjang di jalur pelayaran tua. Sejak dahulu pulau ini menjadi persinggahan perahu-perahu dagang — di sana bahkan tersimpan nekara perunggu kuno, saksi ramainya pelayaran masa lampau. Cerita asal namanya dari kata "layar" kami tuturkan sebagai dongeng, sebagaimana warga menuturkannya turun-temurun.
Untuk anak yang suka laut, Selayar punya jangkar nyata yang megah: tak jauh dari pulau itu terbentang Taka Bonerate, taman nasional laut berupa gugusan atol karang yang termasuk terbesar di dunia — pasir putih, laguna, dan ratusan jenis ikan karang. Melihat fotonya saja sudah seperti membuka buku dongeng.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan obrolan: menolong sesama di perjalanan — api unggun di bukit yang menuntun perahu kemalaman; dan aturan indah sang kakek: setiap tamu membagi satu cerita. Aturan itu enak dipakai di rumah — sebelum tidur, minta anak "membayar" dengan satu cerita tentang harinya.
Tempat yang terbuka untuk menolong dan berbagi akan dikenang dan dicintai banyak orang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.