

Halaman 1
Di tanah Papua, dekat kota Jayapura, ada danau yang sangat luas. Namanya Danau Sentani. Airnya tenang. Pulau-pulau kecil bertaburan di tengahnya. Dari mana danau seindah itu berasal? Beginilah ceritanya.

Halaman 2
Dahulu kala, sekelompok orang tinggal di negeri yang jauh di timur. Tanah mereka mulai sempit dan kering. “Kita harus mencari rumah baru,” kata tetua mereka. “Tetapi pegunungan tinggi menghadang jalan kita.”
Halaman 3
Untunglah mereka punya sahabat: seekor naga raksasa, ular besar bersayap yang baik hati. “Naiklah ke punggungku,” kata sang naga. “Aku akan membawa kalian terbang mencari negeri yang baik.”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Maka terbanglah mereka. Di bawah, gunung-gunung berlalu seperti gelombang hijau. Anak-anak berpegangan pada sisik naga yang hangat. “Lihat, sungai! Lihat, hutan!” seru mereka takjub. Naga terbang dan terus terbang.
Halaman 5
Lama-kelamaan napas naga semakin berat. Sayapnya penat. Di depan tampak lembah luas yang berkilau: hamparan air di kaki pegunungan. “Aku akan turun di sana,” kata naga lirih. “Berpeganglah yang erat.”
Halaman 6
Naga mendarat di air itu dengan lembut. Ia sudah tidak kuat terbang lagi. “Jangan sedih,” katanya kepada orang-orang. “Aku akan beristirahat di sini selamanya. Tinggallah di punggungku. Jadikanlah tempat ini rumah kalian.”
Halaman 7
Perlahan-lahan tubuh naga berubah. Kepalanya menjadi pulau di timur. Ekornya menjadi pulau di barat. Punggungnya yang lebar menjadi pulau-pulau di tengah danau. Sisik-sisiknya menjadi bukit-bukit kecil yang hijau.
Halaman 8
Orang-orang membangun rumah panggung di atas air, di sekeliling pulau-pulau itu. Mereka menangkap ikan, menanam sagu, dan membuat perahu. “Rumah kita di atas air!” seru anak-anak gembira. Mereka menamainya Sentani, tempat tinggal yang damai.
Halaman 9
Sampai sekarang, penduduk Sentani hidup rukun di danau itu. Mereka melukis kulit kayu, menabuh tifa, gendang Papua, dan bernyanyi di atas perahu. Dan mereka tak pernah lupa pada naga baik yang menjadi rumah mereka.
Halaman 10
Malam ini, biarlah punggung naga menjadi bantalmu dalam mimpi. Danau tenang, bintang-bintang berkedip di atas air. Semua sudah sampai di rumah. Kamu juga. Tutup mata, dan berlayarlah ke pulau mimpi.
Danau Sentani adalah danau luas yang nyata di dekat Jayapura, Papua, dengan pulau-pulau kecil bertaburan dan kampung-kampung rumah panggung di tepiannya. Orang Sentani memang menuturkan bahwa leluhur mereka datang menunggangi naga, dan pulau-pulau di danau adalah tubuh naga yang menjadi tempat tinggal — cerita kami mengikuti alur tuturan itu.
Jangkar untuk ditunjukkan: seni lukis kulit kayu khas Sentani. Motif-motifnya yang berlekuk indah masih dibuat sampai sekarang, dan danau ini juga punya festival budaya dengan tarian di atas perahu. Foto danau dari bukit — air tenang penuh pulau hijau — langsung menjelaskan mengapa orang membayangkan ada naga beristirahat di bawahnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Dalam sebagian versi, sang naga mati sebelum menjadi pulau; versi kami membuatnya memilih beristirahat selamanya sambil menitipkan punggungnya menjadi rumah. Bahan obrolan: berterima kasih pada yang "menggendong" kita — siapa saja yang menopang keluarga kalian sehari-hari?
Kebaikan dan pengorbanan untuk orang lain akan selalu dikenang.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.