

Halaman 1
Di Gorontalo ada danau yang tenang, namanya Danau Limboto. Orang-orang tua suka bercerita: dahulu, danau itu hanyalah sebuah kolam kecil. Tapi bukan kolam biasa. Kolam itu istimewa.

Halaman 2
Kolam kecil itu tersembunyi di tengah hutan, airnya jernih berkilau seperti kaca. Kata orang, di sanalah para bidadari turun untuk mandi. Di sekelilingnya, bunga-bunga hutan mekar sepanjang tahun.
Halaman 3
Seorang kakek pencari rotan bernama Kakek Dula menemukan kolam itu tanpa sengaja. Ia terpana. “Tempat seindah ini harus dijaga,” gumamnya. Sejak itu, diam-diam ia rajin datang untuk merawatnya.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kakek Dula memungut daun-daun yang jatuh, merapikan tepian, dan tak pernah mengambil apa pun. Kalau haus, ia minum sedikit saja, lalu mengangguk hormat pada air. “Terima kasih, kolam yang baik.”
Halaman 5
Para bidadari lama-lama memperhatikan. “Siapa yang selalu membersihkan kolam kita?” Suatu senja, mereka menampakkan diri. “Kakek yang rajin, kau boleh meminta satu permintaan,” kata bidadari tertua.
Halaman 6
Kakek Dula berpikir sebentar. “Aku tidak butuh emas,” katanya. “Tapi kampungku sering kekurangan air, dan anak-anak jarang makan ikan. Bolehkah air ini cukup untuk semua orang?”
Halaman 7
Bidadari tersenyum, lalu memercikkan air dari ujung selendang mereka. Kolam itu meluas... dan meluas... dan meluas! Jadilah danau besar berkilauan, penuh ikan-ikan kecil yang gemuk dan lincah.
Halaman 8
Warga pindah membangun kampung di tepi danau. Burung-burung dari negeri jauh pun singgah beristirahat di sana. “Rawatlah danau ini seperti bidadari merawat kolamnya,” pesan Kakek Dula. “Ambil secukupnya, jangan serakah.”
Halaman 9
Sampai sekarang, kalau air danau menyusut, orang-orang tua Gorontalo mengingatkan cerita Kakek Dula. Danau dirawat kembali, dijaga bersama-sama, agar terus memberi seperti dulu.
Halaman 10
Senja di Danau Limboto berwarna jingga keemasan, dan burung-burung terbang pulang ke sarangnya. Sekarang kamu juga: pulanglah ke mimpimu yang hangat. Selamat tidur, sayang.
Danau Limboto adalah danau besar kebanggaan Gorontalo, dan dalam tradisi setempat asal-usulnya dikaitkan dengan telaga tempat bidadari mandi — sekeluarga dengan kisah Lahilote dari daerah yang sama. Adaptasi kami menambahkan sosok kakek perawat kolam agar pesannya jelas untuk anak: yang merawat, dipercaya.
Danau ini jangkar dunia nyata yang penting: Limboto sungguh makin dangkal dan menyusut dari tahun ke tahun, dan orang Gorontalo terus berupaya merawatnya — persis pesan Kakek Dula di akhir cerita. Danau ini juga tempat singgah burung-burung pengembara; mengamati burung di tepiannya bisa jadi acara keluarga yang seru.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan obrolan: meminta secukupnya — saat ditawari hadiah, Kakek Dula tidak minta emas, melainkan air untuk semua orang; dan merawat tanpa disuruh, tanpa menunggu balasan. Coba tanyakan pada anak: kalau kamu boleh minta satu hal untuk satu kampung, kamu minta apa?
Rawatlah alam tanpa pamrih, maka alam akan memberi lebih dari yang kita minta.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.