Google PlayApp Store
Sampul cerita Legenda Batu Kapal

Legenda Batu Kapal

10 halaman3 menit 11 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Jauh di tenggara Maluku terhampar Kepulauan Kei. Pasirnya putih dan halus. Lautnya biru jernih. Di sana hidup burung-burung kakatua putih yang pandai berteriak. Dan di sana pula ada sebuah batu besar berbentuk kapal.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Dahulu kala, sebuah kapal layar bersiap berangkat dari Pulau Kei Besar. Nakhodanya sedang terburu-buru. “Cepat! Angkat layar!” serunya. “Sebelum malam kita harus sampai di Kei Kecil!” Padahal langit di timur mulai gelap.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Para nelayan tua di pantai mengingatkan, “Jangan berlayar dulu, Nakhoda! Angin timur sedang marah!” Kakatua-kakatua putih ikut berteriak dari pohon kelapa, “Jangan! Jangan!” Namun nakhoda hanya melambaikan tangan.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Di tengah laut, angin timur benar-benar datang. Ombak setinggi rumah bergulung-gulung. Layar robek. Kemudi patah. “Bertahanlah!” seru nakhoda kepada awak kapalnya, sambil memeluk tiang yang basah.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Dalam gelap itu terdengar suara kepak sayap. Kakatua-kakatua putih terbang menembus badai. “Ikuti kami!” teriak mereka. Cahaya bulan menerangi bulu putih mereka, seperti bintang-bintang yang menunjukkan jalan ke teluk yang tenang.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Kapal itu terseret ombak dan kandas di teluk yang dangkal. Namun semua selamat. Satu per satu, nakhoda dan awaknya berenang ke pantai. Penduduk kampung menyambut mereka dengan api unggun, ikan bakar, dan selimut hangat.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

“Kalian benar, aku terlalu terburu-buru,” kata nakhoda kepada para nelayan tua. “Badai tidak bisa dilawan dengan buru-buru.” Ia memandang kapalnya yang kandas di teluk, diam tak bergerak, letih seperti dirinya.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Malam itu, bulan bersinar terang sekali. Kapal tua yang kandas itu perlahan-lahan membeku menjadi batu. Tiangnya menjadi batu, lambungnya menjadi batu. Kapal itu tertidur untuk selama-lamanya di teluk yang tenang.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Penduduk Kei menamainya Wat Kaba, artinya batu kapal. Setiap pagi, kakatua-kakatua putih hinggap di atasnya, seperti awak kapal yang setia. Batu itu seolah berpesan kepada semua pelaut, “Dengarkanlah nasihat sebelum berlayar, ya!”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Sekarang badai sudah jauh, dan lautmu tenang. Berbaringlah seperti kapal yang beristirahat di teluk. Dengarkan napasmu, pelan seperti ombak kecil. Tidurlah, pelaut kecilku, sampai matahari pagi datang.

Tentang cerita ini

Cerita ini datang dari Kepulauan Kei di Maluku Tenggara. Orang Kei punya kisah tentang batu besar berbentuk kapal — dalam cerita kami disebut Wat Kaba, "batu kapal" — peringatan bagi pelaut yang nekat menantang cuaca. Dongeng tentang kapal yang membatu dituturkan di banyak pesisir Nusantara, dan versi Kei berpadu dengan burung kakatua putihnya.

Kei sendiri layak ditunjukkan pada anak lewat peta atau foto: kepulauan ini terkenal dengan pantai berpasir putih yang sangat halus dan laut yang jernih. Musim angin memang mengatur hidup pelaut di sana — nasihat para nelayan tua dalam cerita ini adalah ilmu sehari-hari yang sungguhan.

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi tua legenda ini lebih pahit dan menyertakan duka keluarga sang nakhoda; versi kami menyelamatkan seluruh awak dan membiarkan kapalnya saja yang tertidur menjadi batu. Bahan obrolan: mengapa nakhoda tidak mau mendengar nasihat, dan kapan terakhir kali sikap terburu-buru membuat kita celaka kecil.

Untuk orang tua

Pesan moral

Dengarkanlah nasihat dan peringatan orang lain; terburu-buru bisa membawa celaka.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Siapa saja yang memperingatkan nakhoda sebelum berlayar?
  2. Apa yang terjadi pada kapal di tengah laut?
  3. Bagaimana kakatua-kakatua putih menolong para pelaut?
  4. Pernahkah kamu diingatkan orang tuamu tentang sesuatu? Apa yang kamu lakukan?

Untuk kelas

nakhodakakatuabadailayarkemudikandasawak

Cerita lain: Maluku & Papua

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.