

Halaman 1
Jauh di tenggara Maluku terhampar Kepulauan Kei. Pasirnya putih dan halus. Lautnya biru jernih. Di sana hidup burung-burung kakatua putih yang pandai berteriak. Dan di sana pula ada sebuah batu besar berbentuk kapal.

Halaman 2
Dahulu kala, sebuah kapal layar bersiap berangkat dari Pulau Kei Besar. Nakhodanya sedang terburu-buru. “Cepat! Angkat layar!” serunya. “Sebelum malam kita harus sampai di Kei Kecil!” Padahal langit di timur mulai gelap.
Halaman 3
Para nelayan tua di pantai mengingatkan, “Jangan berlayar dulu, Nakhoda! Angin timur sedang marah!” Kakatua-kakatua putih ikut berteriak dari pohon kelapa, “Jangan! Jangan!” Namun nakhoda hanya melambaikan tangan.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Di tengah laut, angin timur benar-benar datang. Ombak setinggi rumah bergulung-gulung. Layar robek. Kemudi patah. “Bertahanlah!” seru nakhoda kepada awak kapalnya, sambil memeluk tiang yang basah.
Halaman 5
Dalam gelap itu terdengar suara kepak sayap. Kakatua-kakatua putih terbang menembus badai. “Ikuti kami!” teriak mereka. Cahaya bulan menerangi bulu putih mereka, seperti bintang-bintang yang menunjukkan jalan ke teluk yang tenang.
Halaman 6
Kapal itu terseret ombak dan kandas di teluk yang dangkal. Namun semua selamat. Satu per satu, nakhoda dan awaknya berenang ke pantai. Penduduk kampung menyambut mereka dengan api unggun, ikan bakar, dan selimut hangat.
Halaman 7
“Kalian benar, aku terlalu terburu-buru,” kata nakhoda kepada para nelayan tua. “Badai tidak bisa dilawan dengan buru-buru.” Ia memandang kapalnya yang kandas di teluk, diam tak bergerak, letih seperti dirinya.
Halaman 8
Malam itu, bulan bersinar terang sekali. Kapal tua yang kandas itu perlahan-lahan membeku menjadi batu. Tiangnya menjadi batu, lambungnya menjadi batu. Kapal itu tertidur untuk selama-lamanya di teluk yang tenang.
Halaman 9
Penduduk Kei menamainya Wat Kaba, artinya batu kapal. Setiap pagi, kakatua-kakatua putih hinggap di atasnya, seperti awak kapal yang setia. Batu itu seolah berpesan kepada semua pelaut, “Dengarkanlah nasihat sebelum berlayar, ya!”
Halaman 10
Sekarang badai sudah jauh, dan lautmu tenang. Berbaringlah seperti kapal yang beristirahat di teluk. Dengarkan napasmu, pelan seperti ombak kecil. Tidurlah, pelaut kecilku, sampai matahari pagi datang.
Cerita ini datang dari Kepulauan Kei di Maluku Tenggara. Orang Kei punya kisah tentang batu besar berbentuk kapal — dalam cerita kami disebut Wat Kaba, "batu kapal" — peringatan bagi pelaut yang nekat menantang cuaca. Dongeng tentang kapal yang membatu dituturkan di banyak pesisir Nusantara, dan versi Kei berpadu dengan burung kakatua putihnya.
Kei sendiri layak ditunjukkan pada anak lewat peta atau foto: kepulauan ini terkenal dengan pantai berpasir putih yang sangat halus dan laut yang jernih. Musim angin memang mengatur hidup pelaut di sana — nasihat para nelayan tua dalam cerita ini adalah ilmu sehari-hari yang sungguhan.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi tua legenda ini lebih pahit dan menyertakan duka keluarga sang nakhoda; versi kami menyelamatkan seluruh awak dan membiarkan kapalnya saja yang tertidur menjadi batu. Bahan obrolan: mengapa nakhoda tidak mau mendengar nasihat, dan kapan terakhir kali sikap terburu-buru membuat kita celaka kecil.
Dengarkanlah nasihat dan peringatan orang lain; terburu-buru bisa membawa celaka.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.