

Halaman 1
Di tanah Gorontalo, hiduplah pemuda bernama Lahilote. Ia tinggal di tepi hutan. Sehari-hari ia mencari rotan. Pada suatu sore, ia mendengar suara tawa riang dari arah telaga.

Halaman 2
Lahilote mengintip dari balik dedaunan. Tujuh bidadari turun dari langit meniti cahaya pelangi, lalu mandi di telaga. Selendang mereka yang berwarna-warni tersampir di atas batu, berkilau seperti embun pagi.
Halaman 3
Diam-diam Lahilote mengambil satu selendang berwarna kuning dan menyembunyikannya. Saat senja, enam bidadari terbang pulang. Yang bungsu, Boyilode, tertinggal. “Selendangku hilang! Aku tak bisa pulang ke langit!”
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Lahilote pura-pura lewat, lalu menawarkan pertolongan. Boyilode akhirnya tinggal di bumi, dan lama-kelamaan mereka menikah. Hidup mereka rukun, meski kadang Boyilode menatap langit senja lama sekali.
Halaman 5
Suatu hari, saat mengambil padi di lumbung, Boyilode menemukan selendang kuningnya. Hatinya perih. “Jadi selama ini kau yang menyimpannya...” Ia menulis pesan: “Aku tidak marah, tapi aku kecewa. Jika hatimu sungguh, susul aku dengan jujur.”
Halaman 6
Boyilode terbang pulang ke langit. Lahilote menyesal sekali. Ia menanam sebatang rotan ajaib dan merawatnya siang malam. Rotan itu tumbuh menjulang, terus menjulang, sampai ujungnya hilang di atas awan.
Halaman 7
Lahilote memanjat berhari-hari. Di tengah hujan, ia melindungi seekor kunang-kunang kedinginan di dalam genggamannya. “Ikutlah,” katanya. Akhirnya ia tiba di negeri atas awan yang bercahaya lembut.
Halaman 8
Para bidadari menyambutnya dengan ujian. “Tujuh bersaudari ini serupa. Tunjuklah Boyilode!” Kunang-kunang terbang pelan dan hinggap di bahu salah satu bidadari. Lahilote berlutut. “Boyilode, aku salah menyembunyikan selendangmu. Maafkan aku.”
Halaman 9
Boyilode memaafkannya. Penghuni langit pun mengizinkan mereka hidup bersama. Kata orang Gorontalo, jejak kaki Lahilote masih membekas di sebuah batu di pantai. Dan setiap pelangi muncul di atas telaga, keduanya sedang berkunjung ke bumi.
Halaman 10
Kalau nanti dalam mimpimu kamu melihat pelangi, mungkin itu jembatan ke negeri atas awan. Mimpilah setinggi langit malam ini, dan tidurlah selembut selendang bidadari.
Ini versi Gorontalo dari keluarga cerita yang tersebar luas di Nusantara: pemuda menyembunyikan selendang bidadari — satu keluarga dengan Jaka Tarub di Jawa. Yang khas dari Lahilote: rotan ajaib yang dipanjat sampai ke atas awan, dan jejak kaki yang membekas di batu.
Jejak itu punya alamat sungguhan: di pantai Gorontalo ada batu terkenal yang oleh warga disebut jejak kaki Lahilote, dan cerita ini hidup di sana sebagai legenda kebanggaan daerah. Kalau suatu saat berkunjung, ajak anak membandingkan telapak kakinya dengan "jejak" raksasa itu.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi lama berakhir sedih: Lahilote akhirnya jatuh kembali ke bumi dan berpisah selamanya; kami menutup cerita dengan pengakuan salah, maaf, dan hidup bersama. Bahan obrolan: mengambil atau menyembunyikan milik orang lain diam-diam — kenapa Boyilode kecewa bukan karena selendangnya, melainkan karena rahasianya; dan bagaimana meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
Kejujuran adalah jalan pulang; kesalahan diperbaiki dengan pengakuan yang tulus.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.