

Halaman 1
Di bawah pohon besar ada kerajaan kecil. Kerajaan semut! Ribuan semut bekerja setiap hari. Mereka mengangkat remah, membangun lorong, menyimpan makanan. Rajin sekali. Tapi tidak semua hewan menghargai mereka.

Halaman 2
Harimau lewat sambil melangkahi barisan semut. "Huh, semut. Kecil begitu, apa gunanya?" katanya. "Hati-hati, Harimau," kata Kancil. "Yang kecil belum tentu tidak berguna." Harimau hanya mendengus. "Ah, kata siapa."
Halaman 3
Suatu sore, semut-semut tiba-tiba sibuk sekali. Mereka berbaris naik ke tempat tinggi sambil menggendong telur-telurnya. "Ada apa, Semut?" tanya Kancil. "Hujan besar akan datang, Kancil! Kaki kami merasakannya. Lembah ini akan banjir!"
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
Kancil percaya pada sahabat kecilnya. Ia berlari keliling hutan. "Naik ke bukit, semuanya! Banjir akan datang! Semut yang memberi tahu!" Sebagian hewan langsung ikut. Tapi Harimau tertawa. "Percaya pada semut? Langit cerah begini!"
Halaman 5
Malamnya, hujan turun seperti dituang dari langit. Air sungai naik dan meluap ke lembah. Untunglah hewan-hewan sudah berada di bukit, kering dan aman. Eh, tapi dari bawah terdengar suara. "Tolooong! Aku basah kuyuuup!" Itu Harimau!
Halaman 6
Air makin naik. Gajah segera turun ke tepi banjir. "Naiklah ke punggungku, Harimau!" Dengan tubuh gemetar kedinginan, Harimau melompat ke punggung Gajah. Selamat! Ia diantar sampai ke bukit yang kering dan hangat.
Halaman 7
Di bukit, Harimau duduk menunduk. Bulunya basah semua. "Semut-semut kecil... kalian menyelamatkan seisi hutan," katanya pelan. "Dan aku yang besar ini malah tidak percaya. Maafkan aku." Semut-semut mengangguk ramah dari atas daun.
Halaman 8
Pagi harinya banjir surut. Matahari muncul, hutan berkilau basah. Harimau membantu semut membangun kembali lorong yang rusak. Dengan cakarnya yang besar, ia menggali parit agar air tidak masuk lagi. "Ternyata kita saling membutuhkan," katanya.
Halaman 9
Sore itu hutan sudah rapi kembali. Semut-semut tidur di lorongnya yang hangat, berdesakan seperti keluarga besar. Hujan sudah pergi, langit sudah tenang. Kamu juga, ya. Rebahkan badanmu pelan-pelan. Selamat tidur, sampai bertemu dalam mimpi.
Cerita semut kecil yang menyelamatkan seisi hutan mengikuti pola fabel yang dikenal di banyak budaya: makhluk paling kecil dan paling diremehkan justru tahu lebih dulu datangnya bahaya. Dalam seri kancil kami, cerita ini juga melanjutkan perjalanan Harimau — dari sombong dan tak percaya, sampai akhirnya belajar meminta maaf kepada yang paling kecil.
Jangkar nyatanya ada di halaman rumah: di Nusantara orang sejak lama percaya bahwa semut yang berpindah beramai-ramai sambil menggendong telurnya adalah pertanda hujan akan turun. Ajak anak mengamati barisan semut — ke mana mereka pergi, apa yang mereka bawa — seperti Kancil yang percaya pada sahabat kecilnya.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Harimau di sini tidak dihukum keras — hanya basah kuyup, lalu ditolong, dimaafkan, dan ikut memperbaiki lorong semut yang rusak. Obrolan: kenapa Harimau tidak mau percaya pada semut? Dan siapa "yang kecil" di sekitar kita yang suaranya patut didengar?
Jangan meremehkan yang kecil: setiap makhluk punya keistimewaan dan jasanya sendiri.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.