

Halaman 1
Sore itu Kerbau mandi di pinggir rawa. Enak sekali berendam di air yang sejuk. Tapi saat mau naik, kakinya melesak ke dalam lumpur. Makin bergerak, makin dalam. "Waduh! Aku terjebak!" seru Kerbau.

Halaman 2
"Tolooong!" Suara Kerbau menggema. Yang datang lebih dulu adalah Buaya. Matanya berkilat melihat Kerbau yang gemuk. "Wah, kebetulan sekali," bisik Buaya. Ia menyeringai lebar. "Tenang, Kerbau. Aku akan... menolongmu."
Halaman 3
Buaya berenang mendekat pelan-pelan. Mulutnya yang lebar mulai terbuka. Tepat saat itu, Kancil lewat. Sekali lihat saja ia langsung mengerti. Buaya bukan mau menolong. Buaya mau makan malam! Kancil harus berpikir cepat.
🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.
Unduh di Google PlayUnduh di App StoreHalaman 4
"Wah, Buaya! Kamu mau menolong Kerbau? Hebat sekali!" seru Kancil keras-keras. Buaya kaget. "Eh... i-iya! Aku memang mau menolong!" "Bagus! Penolong sejati memakai tenaganya," kata Kancil. "Dorong batang kayu itu ke dekat kaki Kerbau!"
Halaman 5
Buaya jadi serba salah. Hewan-hewan kini menonton dari tepi rawa. Mau tidak mau, ia mendorong batang kayu dengan moncongnya. "Sedikit lagi! Nah, pas!" kata Kancil memandu. "Kerbau, pijak kayunya! Angkat kakimu satu-satu, pelan-pelan!"
Halaman 6
Kerbau memijak batang kayu. Satu kaki terangkat dari lumpur. Plop! Lalu kaki kedua. "Ayo, Kerbau, kamu kuat!" seru hewan-hewan. Dengan sekuat tenaga, Kerbau menarik tubuhnya. Plop! Plop! Ia berhasil naik ke tanah yang keras.
Halaman 7
"Terima kasih, semuanya! Terima kasih, Buaya!" kata Kerbau terengah-engah. Buaya salah tingkah. "Errr... sebenarnya tadi aku mau memakanmu," akunya pelan. "Tapi menolong ternyata... rasanya lebih hangat di sini." Ia menepuk dadanya.
Halaman 8
Kancil tersenyum. "Nah, Buaya. Disoraki teman-teman lebih enak daripada kenyang sendirian, kan?" Semua tertawa, Buaya ikut tertawa malu-malu. "Lain kali aku menolong sungguhan," janjinya, lalu berenang pulang dengan hati ringan.
Halaman 9
Kerbau membilas lumpur di air dangkal yang berbatu. "Mulai sekarang aku mandi di sini saja," katanya sambil tertawa. Matahari terbenam berwarna jingga. Hewan-hewan pulang beriringan sambil bercerita tentang hari yang seru.
Halaman 10
Malam pun tiba. Rawa yang tadi ramai kini tenang. Katak bernyanyi pelan, bintang berkelip di atas air. Kerbau tidur nyenyak di padang rumputnya. Kamu juga, ya. Tarik selimutmu, pejamkan mata, dan selamat tidur.
Kisah kerbau yang terjebak dan buaya yang pura-pura menolong berkerabat dengan salah satu cerita pengadilan Kancil paling terkenal di dunia Melayu — "Kancil, Kerbau, dan Buaya", tentang kebaikan yang dibalas air tuba. Dalam versi-versi lama, sengketa itu berakhir di pengadilan Kancil, dan buaya yang tidak tahu berterima kasih dihukum tertindih batang kayu.
Kerbau sendiri adalah jangkar dunia nyata yang kuat: sahabat petani di sawah-sawah Nusantara sejak dahulu, dan memang suka berendam di air serta lumpur untuk mendinginkan badan — persis seperti pembuka cerita ini. Kalau melewati sawah, ajak anak mencari kerbau yang sedang berkubang.
Cocok untuk usia 4–8 tahun. Versi kami memilih akhir yang berbeda dari kanon: tidak ada hukuman — Kancil menangkap basah niat Buaya lewat kata-katanya sendiri, mengubahnya menjadi penolong sungguhan, dan semua berakhir damai. Obrolan: menolong yang tulus dan "menolong" yang pura-pura, apa bedanya? Dari mana kita tahu?
Menolong dengan tulus lebih membahagiakan daripada mengambil keuntungan dari kesusahan orang lain.
Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.