Google PlayApp Store
Sampul cerita Batu Pinabetengan

Batu Pinabetengan

10 halaman3 menit 2 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

Di jantung tanah Minahasa, di sebuah bukit yang sejuk, ada batu besar yang terkenal. Namanya Batu Pinabetengan. Kata orang tua-tua, di batu inilah para leluhur pernah berkumpul untuk urusan yang sangat penting.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Dahulu, anak cucu Toar dan Lumimuut sudah berkembang menjadi banyak kampung. Sayangnya, mereka mulai berebut. Hutan perburuan, sungai ikan, ladang subur — semuanya jadi bahan pertengkaran.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

“Sungai ini milik kampung kami!” seru yang satu. “Hutan itu kepunyaan kami!” balas yang lain. Untunglah belum sampai berkelahi. Tapi wajah-wajah sudah masam, dan pasar pun jadi sepi.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google PlayUnduh di App Store
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Para tonaas, pemimpin yang bijak, akhirnya sepakat. “Kita bertemu di batu besar di bukit,” kata mereka. “Setiap kampung membawa hasil buminya untuk dimakan bersama. Kita bicara sampai selesai.”

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Di depan batu besar itu mereka duduk melingkar. Berhari-hari mereka berbicara bergantian. “Silakan bicara, kami mendengarkan,” kata tonaas tertua kepada setiap orang. Tak ada yang memotong, tak ada yang membentak.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Akhirnya tercapai kata sepakat. Keempat kelompok keluarga besar mendapat tanahnya sendiri: Tombulu di sini, Tonsea di sana, Tontemboan dan Tolour di wilayah masing-masing. Tanda-tanda pembagian digoreskan di permukaan batu besar itu.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Lalu para tonaas berdiri melingkar dan berikrar. “Walau tanah kita terbagi, kita tetap satu keluarga!” Dari ikrar itulah nama tanah mereka berasal: Minahasa, artinya menjadi satu.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

Malam itu bukit menyala hangat oleh api unggun. “Mari makan! Malam ini kita satu keluarga!” seru para tonaas. Makanan dibagi rata, tarian mengelilingi batu, dan setiap orang pulang dengan hati yang lapang.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

Sejak itu, setiap kali ada perselisihan, orang Minahasa kembali ke cara batu itu. Mereka duduk melingkar, berbicara bergantian, dan mendengarkan sampai selesai. Dan anak-anak diajak melihat goresan tua di batu, agar tak pernah lupa.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Batu tua itu masih di sana, tidur tenang di bawah bintang-bintang bukit. Seperti para leluhur yang berdamai, damaikan juga hatimu sekarang. Pejamkan mata, dan tidurlah yang lelap.

Tentang cerita ini

Batu ini sungguh ada: Watu Pinawetengan berdiri di sebuah bukit di Minahasa, Sulawesi Utara, dan menurut tradisi di sanalah para leluhur berkumpul membagi tanah sekaligus berikrar tetap bersatu. Dari ikrar itu pula nama "Minahasa" dimaknai: menjadi satu.

Batu itu bisa dikunjungi sampai sekarang, dan di permukaannya memang ada goresan-goresan tua yang belum terbaca sampai hari ini — ajak anak membayangkan pesan rahasia apa yang mungkin tersimpan di sana. Tempat itu pun masih dipakai orang Minahasa untuk acara-acara budaya, jadi ceritanya belum selesai: batunya masih "bekerja".

Cocok untuk usia 4–8 tahun. Bahan obrolan: cara batu itu dipakai bermusyawarah — duduk melingkar, berbicara bergantian, mendengarkan sampai selesai, tidak ada yang memotong. Aturan sederhana ini enak dicoba di meja makan keluarga; anak biasanya senang sekali diberi giliran bicara yang tidak boleh dipotong siapa pun.

Untuk orang tua

Pesan moral

Masalah bersama diselesaikan dengan duduk bersama: berbicara, mendengarkan, dan berbagi dengan adil.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Apa yang diperebutkan kampung-kampung di Minahasa?
  2. Bagaimana para tonaas menyelesaikan pertengkaran itu?
  3. Apa arti nama Minahasa?
  4. Kalau kamu berebut mainan dengan teman, cara batu Pinabetengan yang mana yang bisa kamu tiru?

Untuk kelas

leluhurtonaassepakatmasamgoresanberikrar

Cerita lain: Sulawesi

Semua cerita →

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.