Identitas
- Kelompok usia: 4–6 tahun (TK A/B)
- Topik: Tanaman dan pohon · Subtopik: Hutan menjaga air
- Alokasi waktu: 60 menit (satu blok dalam hari belajar; bisa dibagi dua hari)
- Cerita: Legenda Gunung Dafonsoro (cerita rakyat Maluku & Papua, 10 halaman, 3 menit)
- Dimensi profil lulusan: Kewargaan, Kolaborasi, Kesehatan
Tujuan pembelajaran
- Anak menyebutkan tempat nenek penjaga menyimpan air hujan: di dalam lumut di puncak gunung.
- Anak menanam satu biji dalam gelas dan menyiramnya sendiri.
- Anak menceritakan akibat pohon ditebang habis: sungai keruh, lalu hampir kering.
- Anak berganti peran pohon dan hujan sesuai aba-aba.
Alat dan bahan
- Cerita Legenda Gunung Dafonsoro: pemutar «Putar di kelas» di laptop/proyektor, atau dibacakan guru.
- Kartu diskusi & kosakata (cetak 1 lembar untuk guru).
- Lembar mewarnai halaman 8 atau 2 (cetak sesuai jumlah anak).
- Gelas plastik bekas, tanah dari halaman, biji kacang hijau atau jagung, air.
Pembukaan (10 menit)
- Salam, doa pembuka sesuai kebiasaan sekolah, absen.
- Pertanyaan pemantik: «Ada pohon apa di dekat rumahmu? Siapa yang menanam dan menyiramnya?»
- Tunjukkan gambar halaman 1: «Ini Gunung Dafonsoro di Papua. Apa yang menutupi puncaknya? Dari mana air sungainya datang?»
- Perkenalkan 3 kata: lereng, lumut, gundul.
Inti (40 menit)
- Memahami: Bacakan halaman 1–5. Berhenti di halaman 5, setelah seorang anak berkata ia akan naik dan mencari tahu. Tanyakan: «Apa yang akan ditemukan anak itu di puncak gunung?»
- Memahami: Lanjutkan sampai halaman 10, lalu tanyakan: «Apa pesan nenek yang dibawa pulang anak itu?»
- Mengaplikasi: pilih 1–2 ragam main. (a) Menanam: setiap anak mengisi gelas dengan tanah, menanam biji, menyiram, dan memberi nama tanamannya; siram tiap pagi. Guru bertanya: «Apa yang dibutuhkan biji supaya tumbuh?» (b) Gerak pohon menahan hujan: sebagian anak jadi pohon (tangan ke atas), sebagian jadi hujan (jari-jari menetes, berhenti di tangan pohon). Aba-aba «pohon ditebang»: pohon duduk, hujan lewat sampai ke lantai. Tanya: «Kalau tidak ada pohon, air pergi ke mana?» Sisa waktu: mewarnai halaman 8.
- Merefleksi: bahas kartu diskusi: «Di mana nenek penjaga gunung menyimpan air hujan?», «Bagaimana penduduk memperbaiki kesalahan mereka?», «Pohon apa yang ingin kamu tanam? Di mana kamu mau menanamnya?»
Penutup (10 menit)
- Recalling: guru menunjukkan halaman 3, 4, dan 9: «Hijau, gundul, hijau lagi. Mengapa?»
- Ulangi kata baru: lereng, lumut, gundul, keruh, tunggul, tunas, gotong royong.
- Pesan untuk di rumah: dengarkan cerita lagi bersama orang tua (kode PR dari guru), lalu siram tanaman di rumah bersama.
- Doa penutup dan salam.
Asesmen (observasi)
- Tempat air disimpan: anak menyebutkan lumut di puncak gunung.
- Menanam: anak menanam biji dan menyiramnya sendiri.
- Akibat penebangan: anak menyebutkan sungai keruh atau kering.
- Permainan pohon: anak berganti peran pohon dan hujan sesuai aba-aba.
- Dokumentasi: hasil karya (gelas tanaman, lembar mewarnai) / foto berseri saat menanam.
Catatan untuk guru
- Untuk kelompok A (4 tahun): bacakan sampai halaman 8, satu ragam main (menanam), pertanyaan kedua dan terakhir saja.
- Kata «serakah» (halaman 4) jangan diarahkan kepada anak tertentu. Fokus pada halaman 7–8: minta maaf, lalu memperbaiki bersama. Nenek penjaga tidak menghukum; ia bersedih.
- Gunung Dafonsoro berdiri di belakang Danau Sentani, dekat Jayapura, Papua. Hutannya menyimpan air untuk kampung di tepi danau. Orang Sentani menganggap gunung itu seperti ibu; cerita ini warisan mereka untuk menjaga hutan.