Unduh di Google Play
Sampul cerita Herkules dan Apel Emas Hesperides

Herkules dan Apel Emas Hesperides

11 halaman3 menit 42 detikUsia 3–7
Buka di aplikasi
Halaman 1–2 diputar berurutan di sini; selebihnya di aplikasi.

Ceritanya

Ilustrasi halaman 1

Halaman 1

«Tugas kesebelas!» seru Raja Eurystheus dari gentongnya. «Bawakan aku apel emas dari taman para Hesperides!» Taman itu ada di ujung dunia, dan tidak seorang pun tahu jalannya. Herkules memakai jubah kulit singanya dan berangkat mencari.

Ilustrasi halaman 2

Halaman 2

Herkules bertanya kepada Nereus, kakek laut yang bijak dan tahu segala jalan. Kata Nereus: «Berjalanlah terus ke barat, sampai langit hampir menyentuh bumi. Di sanalah taman para Hesperides. Tapi hati-hati — pohonnya dijaga Ladon.»

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 3

Setelah perjalanan panjang, Herkules tiba di taman di ujung dunia. Di tengahnya berdiri pohon dengan apel-apel emas bersinar. Dan melingkari pohonnya — Ladon, naga ular berkepala seratus! Seratus pasang mata berjaga, dan Ladon tak pernah tidur.

🔒 Lanjutan cerita ini — gambar dan suaranya — ada di aplikasi Cerita Anak, bersama cerita-cerita lain tentang tokoh dan legenda Nusantara.

Unduh di Google Play
Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 4

Di dekat taman berdiri Atlas, titan raksasa, memikul langit di atas bahunya. Sudah ribuan tahun ia berdiri di sana. Herkules mendapat akal. «Atlas! Kalau kupikul langit itu sebentar, maukah kau memetikkan tiga apel emas untukku? Ladon mengenalmu.»

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 5

Atlas senang sekali. «Baiklah!» Ia memindahkan langit ke bahu Herkules. Berat langit menekan seperti seribu gunung. Lutut Herkules gemetar, giginya terkatup rapat — tapi ia bertahan dan tetap berdiri tegak.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 6

Atlas berjalan santai ke taman. Ladon mengenal titan itu dan membiarkannya lewat. Atlas memetik tiga apel emas dan kembali sambil bersiul. Sudah lama sekali ia tidak berjalan bebas tanpa beban.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 7

Tapi Atlas berkata: «Enak sekali berjalan tanpa langit! Biar aku saja yang mengantar apel ini ke istana. Kau pegang langit itu — selamanya!» Wah, gawat! Tapi Herkules tidak panik. Ia berpikir cepat.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 8

«Baiklah,» kata Herkules tenang. «Tapi bahuku sakit. Peganglah langit sebentar saja — aku mau melipat kulit singaku jadi alas bahu.» Atlas percaya dan mengambil langit kembali. Herkules memungut ketiga apel emas itu!

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 9

«Terima kasih, Atlas! Kau titan yang kuat — langit itu memang hanya cocok untukmu!» seru Herkules sambil melambai, lalu berjalan pulang. Atlas tertegun... lalu tertawa keras. Ia dikalahkan bukan oleh tenaga, tapi oleh akal.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 10

Raja Eurystheus memandangi apel emas itu dengan takjub. Tapi apel para dewa tidak boleh tinggal di istana manusia — maka dewi Athena mengantar ketiganya kembali ke taman di ujung dunia.

Gambar & suara ada di aplikasi

Halaman 11

Malam turun. Di ujung dunia, apel-apel emas bersinar lembut di pohonnya, dan Ladon berjaga seperti biasa. Herkules tidur nyenyak. Tinggal satu tugas terakhir — yang paling sulit. Tapi itu cerita untuk malam yang lain. Selamat tidur.

Untuk orang tua

Pesan moral

Kadang akal yang cerdik lebih kuat daripada otot yang besar.

Pertanyaan untuk ngobrol

  1. Kenapa Herkules meminta Atlas memetik apel emas, bukan memetiknya sendiri?
  2. Bagaimana cara Herkules membuat Atlas mengambil langit kembali?
  3. Kalau ada masalah yang terasa terlalu berat, akal cerdik apa yang bisa kamu pakai?

Dengarkan semuanya di aplikasi

Semua halaman bersuara, teks menyala mengikuti suara, bisa offline, tanpa iklan.